Langkah-Langkah
Tegar Galih
Oleh
: Kenderwis
Galih duduk di teras rumahnya, memandangi halaman yang kosong dengan pikiran
yang berkecamuk. Setelah lulus SMA, hidupnya tak berjalan seperti yang dia
bayangkan. SBMPTN? Gagal. STAN? Gagal. Jalur Mandiri? Sama saja, tak ada hasil.
Dia mencoba menenangkan diri, tapi setiap kali ingat usahanya yang
berbulan-bulan, rasa kecewa itu terus menghantui.
Galih adalah anak ketiga dari pasangan ASN yang selalu berusaha untuk selalu
jujur dan taat agama di sebuah Kabupaten Kecil. Ayah dan ibunya selalu
menekankan pentingnya kejujuran dan kerja keras. "Jangan pernah ambil
jalan pintas, Nak. Semua yang datang dari jalan yang salah nggak akan pernah
berkah," begitu pesan yang terus terpatri di benak Galih sejak kecil.
Tapi sekarang, dia mulai bertanya-tanya, apakah usahanya yang penuh
kejujuran ini memang sepadan? Apakah mungkin jika saja dia menempuh jalan yang
"lebih mudah," nasibnya akan berbeda? Dia mendengar bisikan
teman-temannya soal jalur belakang atau "kenalan penting" yang bisa
membantu, tapi dalam hatinya, Galih tahu itu bukanlah caranya.
Suatu malam, di ruang tamu, ibunya duduk di samping Galih yang tampak
termenung.
Ibu Galih:
"Galih, kamu baik-baik aja, kan?"
Galih menatap ibunya dengan senyum tipis yang penuh kepedihan.
Galih:
"Iya, Bu, cuma... kadang aku merasa semua yang aku lakuin sia-sia. Aku
udah belajar keras, rajin berdoa, tapi tetep gagal di semua ujian itu. SBMPTN,
STAN, jalur mandiri, semuanya... nggak ada hasil."
Ibunya tersenyum lembut, menyentuh bahu Galih dengan penuh kasih sayang.
Ibu Galih:
"Nak, yang penting itu bukan hasil akhirnya, tapi proses yang kamu
jalanin. Tuhan punya rencana yang lebih baik buat kamu. Mungkin nggak sekarang,
tapi yakinlah, rezeki nggak akan pernah salah alamat."
Galih mencoba menyimpan kata-kata itu dalam hatinya. Ia tahu betapa besar
cinta dan harapan orang tuanya. Meski hidup mereka sederhana, ayah dan ibunya
selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran dan integritas. Hal itu pula yang
membuat Galih tak pernah tergoda untuk menyerah pada godaan jalan pintas.
Sekarang, kesempatan lain terbuka. Galih mendaftar menjadi CPNS di
Kementerian Hukum dan HAM. Harapannya belum padam, meski di dalam hati, bayangan
kegagalan sebelumnya masih menyisakan luka.
Di kamarnya, Galih membuka laptop, memeriksa kembali jadwal ujian yang masih
menunggu pengumuman. Pikirannya berputar tentang kemungkinan apa yang akan
terjadi jika dia gagal lagi. Tapi tiba-tiba, pesan ayahnya terngiang di
kepalanya.
Ayah Galih:
"Galih, jangan pernah ragu sama jalan yang udah kamu pilih. Kamu udah
belajar dengan jujur, berusaha tanpa kecurangan. Apapun hasilnya nanti, itu
yang terbaik buat kamu."
Dengan keyakinan yang sedikit terbangun kembali, Galih memutuskan untuk
terus berjuang. Dia mungkin belum lulus SBMPTN, STAN, atau jalur Mandiri, tapi
dia tahu bahwa hidup bukan hanya tentang ujian-ujian itu. Dia percaya, Tuhan
pasti punya rencana yang lebih baik, selama dia tetap jujur dan setia pada
prinsipnya.
Hari-hari menunggu pengumuman ujian CPNS terasa panjang, namun kali ini
Galih menjalani setiap detiknya dengan lebih ikhlas. Dia yakin bahwa kesuksesan
bukan hanya soal lulus atau gagal, tapi tentang bagaimana dia menjalani setiap
proses dengan ketulusan hati.
Galih:
"Apapun hasilnya nanti, gue nggak akan nyerah. Karena yang gue kejar
bukan cuma cita-cita, tapi juga ridho Tuhan."
Sambil menatap langit sore, Galih merasa lebih tenang. Jalan yang dipilihnya
mungkin tak selalu mudah, tapi dia tahu, selama dia tetap setia pada kejujuran
dan integritas yang diajarkan orang tuanya, dia sedang menapaki jalan yang
benar.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar